Monday, June 6, 2011

Mengenal Lebih Dekat Asuransi Unit Link dan Asuransi Syariah

               
Hidup ini penuh dengan risiko yang timbul akibat adanya ketidakpastian. Mulai dari tidur, bangun tidur hingga kita melakukan aktifitas rutin setiap hari, tak ada yang tahu risiko yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. Untuk itu kita perlu melakukan manajeman pengelolaan risiko yang baik yaitu dengan memindahkan risiko kepada pihak lain (dalam hal ini perusahaan asuransi) adalah merupakan salah satu cara yang efektif.
Banyak orang yang merasa membeli asuransi merupakan pemborosan karena kita membayar sesuatu yang belum tentu terjadi. Dalam hal ini ingin saya perlu jelaskan bahwa salah satu kebutuhan yang mendasar sesuai dengan kaidah financial planning tentunya bagi mereka yang berada di usia produktif serta memiliki income, maka sebaiknya memiliki asuransi dan asuransi yang paling dasar adalah asuransi jiwa. Kematian adalah hal yang pasti terjadi dan bagi mereka yang memiliki keluarga tentu ingin memberi proteksi yakni suatu kepastian apabila yang bersangkutan dipanggil oleh Sang Pencipta maka keluarga yang ditinggalkan tetap dapat menjalankan kehidupan dengan layak antara lain sandang pangan terpenuhi, anak tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang tinggi, biaya kesehatan yang tercukupi, dan lain sebagainya.

ASURANSI KONVENSIONAL VS ASURANSI SYARIAH



Pada posting sebelumnya, saya telah membahas tentang asuransi. Pada topik kali ini saya akan mengupas perbedaaan antara asuransi konvensional dan syariah. Perbedaan mendasar antara kedua asuransi ini terletak pada halal dan haram dalam hukum islam. Asuransi syariah berpedoman pada Al-Qur'an dan Al-Hadist dengan prinsip tolong menolong. Berbeda dengan asuransi konvensional yang hanya mencari keuntungan semata-mata. Berikut ini tabel perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah.




Dalam perkembangan pasar asuransi yang sangat besar di Indonesia, asuransi syariah baru mencapai sekitar 1,5% dari total asuransi yang ada. Padahal berdasarkan data di BKKN, jumlah penduduk di Indonesia telah mencapai 220 juta dengan tingkat pertumbuhannya sekitar 1,48% per tahun dan tingkat kelahiran sebesar 2,6. Pertumbuhan penduduk tersebut, tentu akan menjadi peluang untuk membuka usaha asuransi syariah dengan jumlah penduduk yang amat besar, ditambah dengan persentase umat islam yang mencapai 88% dari jumlah penduduk yang ada sehingga akan menjadi pangsa pasar yang besar bagi asuransi syariah.
Kini telah banyak masyarakat yang menjadi peserta asuransi syariah, karena menurut mereka system asuransi syariah menjanjikan system yang lebih adil, transparan dan terhindar dari unsur perjudian. Oleh karena itu masyarakat merasa lebih aman dengan asuransi syariah.


ASURANSI UNIT LINK




              Sejak beberapa tahun yang lalu, di Indonesia mulai marak dipasarkan produk-produk asuransi unit linkUnit link adalah produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Dengan menjadi nasabah produk unit link, seseorang bisa mendapatkan manfaat ganda yaitu perlindungan asuransi dan investasi. Produk asuransi yang ditawarkan bisa berbentuk asuransi kesehatan atau asuransi jiwa, tetapi biasanya dipasarkan dalam kemasan yang lebih menarik bagi masyarakat: misalnya tabungan masa depan atau asuransi pendidikan.

          Seperti halnya asuransi biasa, nasabah asuransi unit link membayar premi setiap jangka waktu tertentu, biasanya bulanan. Perbedaannya, nasabah unit link membayar premi dalam dua porsi: porsi premi perlindungan dan porsi investasi. Premi perlindungan berfungsi sama dengan premi pada asuransi biasa. Sedangkan porsi investasi akan disetorkan oleh perusahaan asuransi kepada manajer investasi untuk dikelola. Pada produk-produk tertentu, jika nantinya return dari investasi bisa menutupi biaya premi, maka nasabah memiliki pilihan untuk tidak membayar premi. Ada 2 jenis asuransi unit link, yaitu :

1.    Asuransi Unit Link Premi Tunggal
       Pada pembayaran premi tunggal atau single premium (yaitu pembayaran premi hanya satu kali dan tidak ada kewajiban pembayaran di tahun berikut namun jika ingin  menambah diperbolehkan), biasanya polis jenis ini juga membebankan biaya seperti  Biaya Polis yang besarnya tetap (tidak dipengaruhi oleh besar atau kecilnya Uang  Pertanggungan), Biaya Administrasi untuk menutup biaya awal polis dan Biaya Mortalitas yang besarnya tergantung jenis kelamin, usia masuk serta besarnya Uang Pertanggungan. Kondisi kesehatan pemegang polis juga turut mempengaruhi besarnya biaya ini.

Uang Pertanggungan yang dijamin adalah sebesar 150% dari investasi awal, jika tidak ada penarikan dana di kemudian hari oleh nasabah. Namun apabila terjadi penarikan dana di kemudian hari, Uang Pertanggungan akan berkurang. Sejalan dengan lamanya wakt investasi, apabila pertumbuhan dana investasi telah melebihi Uang Pertanggungan maka jika terjadi risiko kematian, manfaat yang didapat oleh ahli waris sebesar nilai investasi. Sebaliknya, jika nilai investasi ternyata lebih kecil dari Uang Pertanggungan maka manfaat yang di dapat ahli waris adalah sebesar Uang Pertanggungan, dengan catatan jika perkembangan nilai investasi tidak lebih kecil dari biaya-biaya yang telah disebutkan di atas.
2.    Asuransi Unit Link Premi Berkala
Asuransi jenis ini pembayaran premi dilakukan berkala dan memiliki jangka waktu tertentu. Seperti asuransi polis premi tunggal, polis jenis ini juga membebankan Biaya Pengelolaan Investasi, Biaya Awal dan/atau Biaya Penebusan bagi unit linked yang menggunakan bid-offer price. Besarnya masing-masing biaya seperti yang sudah disebutkan di atas. Biaya Polis juga dikenakan, besarnya tetap (tidak dipengaruhi oleh besar atau kecilnya Uang Pertanggungan) dan ada Biaya Asuransi yang dikenakan untuk menutupi biaya mortalita yang besarnya variatif (tergantung usia masuk, jenis kelamin, besarnya Uang Pertanggungan serta faktor kesehatan).Patut dicermati bahwa umumnya dana yang berasal dari premi dasar tidak diinvestasikan pada tahun pertama, dengan demikian seluruh dana nasabah pada tahun pertama dipergunakan untuk menutupi biaya penjualan, administrasi, asuransi dan keuntungan yang diinginkan oleh perusahaan asuransi jiwa.

Demikian ulasan singkat mengenai asuransi syariah dan unit link. Semoga bermanfaat bagi para pembaca budiman sekalian, dan semoga ilmu yang diperoleh bermanfaat di dunia dan akherat. Amin Ya Rabb...

Referensi:
Modul 3 bab 5

Tuesday, May 17, 2011

Management Risk and Insurance


"The only thing certain in life, with the exception of death and taxes"
(Greene, 1962)

Kita ketahui, tidak ada sesuatu yang pasti dalam kehidupan ini kecuali mati. Demikian pula apa yang akan kita hadapi di masa yang akan datang penuh dengan ketidakpastian. Setiap hal yang kita lakukan, senantiasa dihadapkan kondisi ketidakpastian atas semua hasilnya. Lantas biasanya kita mempertimbangkan berbagai alternatif dan memutuskan setelah memperhitungkan untung ruginya dari setiap alternatif yang ada. Itu berarti kita telah mencoba untuk mengalihkan unsur ketidakpastian atas peristiwa di masa yang akan datang dengan mengeliminir macam-macam risiko yang mungkin timbul. Dalam blog ini, saya akan membahas menajemen risiko fokus pada perencanaan keuangan dan asuransi

Proses Pengelolaan Risiko
  1. Develop Objectives. Menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam pengelolaan risiko.
  2. Establish Exposure. Kita harus mampu menemukan seluruh risiko murni atas setiap aset yang kita miliki.
  3. Identify Available Risk Management Tools. Ada banyak teknik yang tersedia untuk mengatur risiko yang ada.
  4. Match Appropriate Risk Management Tools to Exposure. Memilih teknik menejemen risiko yang sesuai dengan risiko yang kita hadapi atas kepemilikan suatu aset.
  5. Implementation. Menjalankan teknik yang telah dipilih untuk mengeliminir kemungkinan timbulnya kerugian.
  6. Review. Risiko mungkin saja dapat berubah. Oleh karenanya, kita perlu me-review kembali setiap kemungkinan kerugian yang dapat terjadi setiap tahunnya.
Terdapat beberapa teknik pengelolaan risiko, di antaranya:
  1. Asumsi (Retain Risk)Merupakan cara umum yang digunakan dalam pengelolaan risiko yang bernilai kerugian rendah. Risiko pada umumnya diabaikan dan ditanggung sendiri, sehingga tidak membutuhkan pengelolaan lebih lanjut.
  2. Transfer Risiko (Transfer Risk)Untuk risiko murni-statis, umumnya ditransfer pada lembaga asuransi. Sedangkan untuk risiko spekulatif-dinamis dapat ditransfer kepada masyarakat, konsumen, atau lembaga non-asuransi.
  3. Penyebaran (Diversity Risk)Menggabungkan berbagai jenis investasi yang satu sama lain saling melengkapi. Bila timbul kerugian dalam salah satu investasi, maka dapat ditutupi dengan keuntungan investasi lainnya.
  4. Pencegahan Kerugian (Reduce Potential Loss)Metode ini menekan serendah mungkin pengaruh keuangan apabila kerugian tersebut timbul. Misalnya membangun konstruksi rumah yang tahan api.
  5. Menghindari (Avoid Risk)Metode ini menghindari risiko potensial yang dapat menimbulkan kerugian. Misalnya ada risiko basah jika kita keluar saat hujan, maka sebaiknya kita tidak keluar rumah saat hujan.
  6. Metode pengelolaan risiko lainnya.
Setelah mengetahui proses dan teknik pengelolaan risiko, berikutnya saya akan membahas masalah asuransi. Pada dasarnya, asuransi merupakan bagian dari teknik pengelolaan risiko. Asuransi adalah proses pengalihan risiko dari pihak tertanggung kepada pihak penanggung dengan membayar sejumlah premi dalam periode waktu tertentu. Dengan menggunakan scientific methods, perusahaan asuransi dapat mengestimasi besarnya kemungkinan kerugian dan menghitung besar premi untuk memperoleh keuntungan.

ASURANSI JIWA
Risiko yang dilimpahkan kepada penanggung bukanlah riisko hilangnya jiwa seseorang, melainkan kerugian keuangan sebagai akibat hilangnya jiwa atau karena mencapai umur tidak produktif lagi. Asuransi jiwa mempunya peranan di dalam kehidupan seseorang yaitu memastikan masa depan dan menanggulangi risiko hidup. Asuransi jiwa dibutuhkan karena adanya 2 risiko utama yang mengancam kehidupan manusia, yaitu meninggal terlalu cepat dan kebutuhan karena hidup terlalu lama.
Ada 6 macam kebutuhan pokok karena meninggalnya pencari nafkah pada usia produktif, yaitu:
  1. Dana pemutihan, untuk membayar: biaya penguburan, rekening-rekening almarhum yang belum dibayar, hutang pribadi, biaya perawatan, dsb.
  2. Dana penyesuaian, untuk membayar: kebutuhan hidup keluarga, biaya pendidikan  bagi anak, modal kerja, biaya kursus yang diperlukan, dsb.
  3. Pendapatan keluarga untuk memenuhi segala kebutuhan materi dalam keluarga.
  4. Biaya hidup janda/duda sebagai biaya hidup, bekal pensiun, dsb.
  5. Dana pendidikan untuk anak.
  6. Asuransi hipotik  untuk menutup kekurangan pembayran angsuran kredit rumah dan atau tanah.
Jenis-jenis asuransi jiwa:
  1. Asuransi jiwa berjangka. Merupakan proteksi terhadap risiko kematian dalam jangka waktu tertentu. Jenis ini dibagi lagi menjadi 3, yaitu asuransi berjangka tetap, asuransi berjangka menurun, dan asuransi berjangka meningkat.
  2. Asuransi jiwa seumur hidup. Jenis asuransi ini memiliki elemen tabungan yang dimasukkan ke dalam polis.
  3. Asuransi jiwa gabungan. Merupakan polis asuransi yang memberikan proteksi kepada lebih dari satu orang.
  4. Asuransi jiwa dwiguna. Pada umumnya polis asuransi dwiguna dipergunakan sebagai tabungan selama jangka waktu tertentu yang disertai dengan elemen proteksi. Jangka waktu polis dwiguna umumnya 10, 15, 20 dan 25 tahun.
  5. Anuitas. Jenis asuransi ini dirancang untuk menyediakan penghasilan pada saat pensiun. Dana yang dikumpulkan dari anuitasakan diinvestasikan di obligasi pemerintah atau instrumen pendapatan tetap lainnya,dan pemegang polis tersebut akan mendapat pengembalian modal pokok beserta bunga dari hasil investasi.
  6. Polis unit linked. Merupakan produk asuransi jiwa yang ada unsur investasinya. Dalam produk asuransi jiwa unit linked sesuai dengan prinsip asuransi artinya risiko tertanggung telah dialihkan kepada pihak penanggung, kecuali risiko investasinya.
ASURANSI KESEHATAN
Asuransi yang akan memberikan proteksi terhadap risiko sakit dan kecelakaan. Polis asuransi kesehatan memberikan ganti biaya pembedahan, rontgen, dan biaya lainnya yang berhubungan dengan rumah sakit. Adanya perubahan gaya hidup meningkatkan kesadaran akan perlunya asuransi kesehatan, banyak yang harus dipertimbangkan dampak dari proteksi kesehatan ketika masa pensiun tiba dan sampai usia berapa proteksi asuransi akan berjalan.

ASURANSI KEHILANGAN PENGHASILAN KARENA CACAT

Polis asuransi ini akan memberikan pembayaran bulanan kepada tertanggung untuk menggantikan sebagian dari penghasilan yang hilang karena cacat. Proteksi ini bisa berdasarkan cacat karena kecelakaan saja atau karena kecelakan dan karena sakit. Tertanggung dianggap cacat apabila:
  1. Tidak dapat melakukan sehala jenis pekerjaan (pekerjaan apapun).
  2. Tidak dapat melakukan pekerjaan yang sebelumnya bisa dilakukan.
  3. Tidak dapat melakukan pekerjaannya yang sekarang
ASURANSI PENYAKIT KRITIS
Pembayaran uang pertanggungan sakit kritis dirancang untuk mengganti biaya pengeluaran perawatan kesehatandan juga biaya pengeluaran yang terus ada jika tertanggung tidak dapat bekerja lagi.


Demikian ulasan singkat tentang pengelolaan risiko dan asuransi. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan keilmuan bagi para pembaca budiman sekalian. Dan menjadi ilmu yang bermanfaat di dunia dan akherat. Amin ya Rabb...

Saturday, April 30, 2011

BUSINESS ETHICS

The Cultural Dimension of Business Ethics

1. Cultural dimensions of Business Ethics

We speak of cultural dimensions to designate structures of organizing and thereby characterizing a particular group of people. The culture tends to take on a supra-identity constituting the framework for each individual in the group. Cultures can be very broad as seen in examples of national identity : the French, the Americans. Or they can be more specific to the common interests it binds the different participants/stakeholders as seen in corporate culture, urban culture, ethnic minority culture. In either case, the culture that results is usually a general, predominant composite of all the constituent parts giving rise to an intangible entity that incorporates its different elements (an inter subjective identity). It is the framework by which a personality develops even if this personality is intangible it represents one, the representation is found in its image and acts like the glue holding the picture together.
Culture is opposed to nature in that it is constructed by man (man-made) not by the physical universe (though the physical universe has an impact on the way in which man constructs culture). One could come up with a 'natural' culture, which may appear as a contradiction in terms. But, if we understand this expression 'natural' culture to be an emphasis on the 'natural' elements in inquiring into 'human nature' and the 'universe', then it just qualifies the culture to be of that type. We can debate on and on about what constitutes the 'natural' (though an essential question regarding environment, we cannot elaborate this now). Questions of the sort : is man basically good or evil?, is it natural to formula feed your baby?, is man in the state of nature prior to social existence?, which parts does society have to maintain for man in his social being? (shelter, survival, , etc); what does man have to give to society in order to sustain it? 
We must consider the economic model used and its influence on the cultural dimension as applied to business ethics the global economy is based on the assumption of capitalism : a free market economy. 1 If we take the economic model as socialist or communist, our evaluations of ethical dilemmas would differ as some norms would be modified in their importance. For example, the ownership of production and the distribution of wealth would be structured according to specific economic systems following their respective norms. For the purposes of this inquiry, we'll use the economic model of capitalism in a 'free market economy'. 
Traditionally, this model is exemplified by Carr & Friedman, both espousing that the main objective of business is to make profits within legality. The role of the corporation and its management is to ensure profits and be accountable to the shareholders. The notion of corporate social and/or moral responsibility has made inroads into this position. The image and moral position of corporations have become so important these days, that their strategies are designed around this preoccupation. Need we be reminded of Total's recent oil spill off of the French coast, or Nike's difficulties with child labor, not to mention the most recent Enron tragedy; just open the newspaper or watch the news to see that corporate roles are beyond making profit. The question of how this profit is to be earned has become as important as the profit itself. Taking the social and moral aspects into account is essential to developing strategy, which in turn affects the corporation's profit capacity.  
Ethics on the other hand, coming from the Greek roots 'éthiké' meaning the ways and habits of a group of people, would translate into the actual customs, and practices characterizing specific cultures. However, over time this meaning has taken on not only a descriptive quality, but a prescriptive one as well while describing it prescribes (behavior). Philosophically speaking, ethics is viewed from morality2 (having its roots in Latin 'mores' customs and habits of a group), which has also developed the character of oscillating from descriptive to prescriptive behavior. That is, what we dos becomes what we should do, in describing behavior there's an inference to prescribing it. This is the way it's done almost sounds like you should do it this way. One may ask how ? Explicitly, any documented policy drawn from actual experience usually takes on a prescriptive nature once it is transmitted as such. Putting behavioral practices into written rules for others to abide by, no longer describes that behaviour but rather prescribes it. Implicitly, the disapproval shown by others creates a pressure to conform to the norm. We'll come back to this idea later on.
Briefly, ethics concerns itself with establishing norms, evaluating when a moral act is right or wrong as well as helping one to make moral decisions when confronted with a moral dilemma.  
Culture and ethics are interrelated and intertwined in such a way that it makes it difficult to know which factor is guiding / motivating the behaviour arising from a given situation. Is it the cultural vision of his/her ethics or is it the ethical vision of his/her culture that guides someone to do or not do certain things. Trompenaar's survey3 questioning people's reaction to a given situation shows that cultures with more emphasis on human relationships and loyalty (particularists) scored lower than those that emphasized obeying rules (universalists). 

 

My Comments :

According to me about this article, cultural dimension is the organizing structure to mark a particular group. Culture is something specific to tie the stakeholders such as corporate culture. Culture will lead to the intangible entity that lists the different elements that develop the personality.
In this article compares the economic model used and its impact on the cultural dimensions. Suppose the assumptions of free market capitalism in, the economic dilemma ethics will emerge and there will be some norms that were modified on the basis of their interests with the purpose of making profits, their strategies are designed for their own welfare regardless of the suffering of competitors. This is the cultural dimensions of capitalism which I think is unethical because the dimensions of capitalist culture will benefit the strong and get rid of the weak.




Monday, April 11, 2011

Prinsip Dalam Berinvestasi


Pada umumnya, setiap orang  ingin terbebas dari masalah keuangan dan investasi merupakan salah satu jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Investasi membutuhkan suatu perencanaan yang baik dan matang agar tujuan dari investasi itu dapat tercapai. Untuk itu saya mencoba membuat sebuah tulisan yang membahas hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam berinvestasi.

Langkah pertama yang dilakukan dalam berinvestasi adalah memahami jenis-jenis risiko dalam investasi. Semakin tinggi tingkat risikonya, maka semakin besar hasil yang akan diperoleh dalam berinvestasi (high risk, high return). Risiko investasi dapat dibedakan menjadi:
  1. Risiko Sistematik, yaitu risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi portofolio diantaranya: risiko pasar, risiko suku bunga, risiko tarif reinvestasi, risiko daya beli dan risiko mata uang.
  2. Risiko Non Sistematik, yaitu risiko yang dapat dikurangi menurut porsi dengan diversifikasi diantaranya: risiko bisnis, risiko keuangan, risiko cidera janji dan risiko likuiditas.
Langkah kedua, menentukan jenis aset investasi kita apakah yang likuid atau memiliki daya jual yang tinggi (marketability). Meskipun aset itu likuid, tetapi belum tentu mempunyai pasar. Sebaliknya, meskipun aset itu tidak likuid tapi mungkin saja memiliki daya jual yang tinggi. Oleh karena itu, sebagai calon investor perlu mengetahui perbedaan antara investasi yang likuid atau memiliki daya jual dalam rangka menentukan jenis investasi.

Langkah ketiga, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat toleransi risiko. Tujuan spesifik, jangka waktu, pengetahuan tentang investasi, kepribadian investor, kondisi pasar terkini, kondisi keuangan terkini, faktor umur dan pendapat atas investasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan dalam berinvestasi sehubungan dengan tingkat toleransi risiko.

Langkah keempat, mengetahui tipe dan karakteristik dari hasil investasi. Setiap tipe investasi memiliki  karakteristik yang berbeda. Tipe dan karakteristik yang berbeda akan memberi hasil yang berbeda pula. Hasil investasi dapat berupa peningkatan modal kekayaan, pendapatan, atau kombinasi keduanya. Peningkatan modal kekayaan menitikberatkan pada kerangka periode waktu tertentu (jangka pendek, menengah, panjang). Investor lainnya ada pula yang lebih memilih pendapatan berjalan, seperti deviden, bunga dan pembayaran sewa. Ada pula investor yang menginginkan gabungan dari keduanya, seperti mendapatkan deviden sekaligus pertumbuhan modal.

Langkah kelima, mengetahui strategi alokasi aset dan diversifikasiDiversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, biasa juga disebut dengan alokasi aset. Alokasi aset lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi untuk memperoleh hasil semaksimal mungkin dengan tingkat risiko yang kecil. Diversifikasi dapat memperkecil risiko investasi.

Langkah keenam, menganalisa investasi melalui pendekatan secara teknikal dan fundamental. Analisa teknikal mengamati grafik atas perubahan harga, pergerakan index, volume transaksi, dsb, berdasarkan data historis. Sedangkan analisa fundamental memperhitungkan kondisi ekonomi makro dan mikro secara mendalam seperti tingkat suku bunga, tingkat inflasi, tingkat pengangguran, laporan keuangan perusahaan dan aspek lainnya diluar analisa teknikal. Analisa investasi penting dilakukan oleh seorang investor dalam mengambil keputusan atas investasinya.

Yang terakhir adalah menghitung nilai intrinsik dari instrumen investasi. Nilai intrinsik didefinisikan nilai saat ini dari aliran kas masuk yang akan didapatkan sepanjang umur hidup selama kita masih memiliki investasi tersebut. Nilai saat ini dari uang yang akan kita dapatkan di masa depan merupakan konsep dari time value of money. Dengan menghitung nilai intrinsik, maka kita dapat mengetahui harga wajar atas investasi tersebut.

Demikian ulasan singkat dari saya. Semoga dapat menambah wawasan keilmuan khususnya di bidang investasi bagi para pembaca budiman sekalian. amin ya Rabb...


Referensi bacaan:
2007. Dasar-Dasar Perencanaan Keuangan. Financial Planning Standards Board Indonesia
http://blog.keuanganpribadi.com/diversifikasi-portofolio-untuk-kurangi-risiko-investasi/
http://id.wikipedia.org/wiki/Investasi

Thursday, January 13, 2011

Penyelewengan Internet


Dengan masuknya era globalisasi, merupakan suatu pertanda bahwa kita telah memasuki Era Globalisasi Informasi. Apalagi dengan adanya INTERNET, maka bersiap-siaplah kebanjiran informasi. Informasi merupakan suatu aset yang bernilai dan paling dibutuhkan oleh orang setiap harinya. Internet mempermudah dalam penyebaran informasi dan menjalin komunikasi antarpenggunanya. Saat ini para pengguna internet ramai memanfaatkan fasilitas ini untuk melakukan transaksi jual beli barang, ajang promosi barang, dan lain sebagainya. Hal ini seakan-akan telah membuat diri sendiri dapat melakukan segala hal dengan internet.

Karena internet merupakan media pertukaran informasi yang cepat dan mudah, maka tak heran jika ada pihak tertentu yang menginginkan informasi tersebut dengan cara yang ilegal. Untuk itu, mutlak diperlukan sistem keamanan informasi yang dapat memproteksi informasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saat ini sangat banyak orang yang terhubung dengan internet, tak heran semakin banyak pula penjahat internet. Mereka-mereka inilah yang mencari mangsa empuk dengan tujuan menguntungkan diri sendiri. Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita mengenal bentuk-bentuk kejahatan internet agar kita tidak menjadi korban.

 Beberapa kejahatan via internet:
  1. Carding, yaitu menggunakan identitas kartu kredit milik orang lain. Pelakunya disebut carder.
  2. Hacking, merupakan kegiatan menerobos sistem keamanan program komputer milik orang/pihak lain.
  3. Cracking. Hampir sama dengan hacking. Hacking lebih fokus pada prosesnya, sedangkan cracking lebih fokus pada menikmati hasilnya.
  4. Defacing adalah kegiatan merubah halaman situs/web pihak lain.
  5. Phising adalah kegiatan memancing pengguna internet (user) agar mau memberikan informasi data diri pemakai (username) dan kata sandinya (password) pada suatu website yang sudah di-deface.
  6. Spamming adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik (e-mail) yang tak dikehendaki. Biasanya merupakan penipuan.
  7. Malware adalah program komputer yang mencari kelemahan dari suatu softwar, seperti virus, worm, trojan, dsb


5 fakta menarik tentang Indonesia:
  • Indonesia adalah negara dengan carder tertinggi setelah Ukraina (riset Clear Commerce - Texas, USA)
  • Lebih dari 20% transaksi internet dari Indonesia adalah hasil carding. Akibatnya banyak situs belanja online yang memblokir IP yang berasal dari Indonesia.
  • Indonesia menempati posisi ke-6 besar dunia atau ke-4 di Asia dalam tindak kejahatan internet (survey A. C. Nielsen)
  • Pengawasan dan kekuatan pengamanan internet di Indonesia masih lemah karena hanya dilengkapi dengan 12 sensor untuk memantau lalu lintas jutaan pengguna internet di Indonesia.
  • Masyarakat Indonesia menduduki peringkat ke-4 di dunia yang gemar membuka situs pornografi pada tahun 2010. Tahun 2008 dan 2009, Indonesia menempati urutan ke-3 setelah Vietnam dan Kroasia (Survey Peri Umar F. - Liputan6.com)
Dari hal-hal di atas, dapat diketahui bahwa penggunaan internet banyak disalahgunakan oleh orang-orang. Internet memberi banyak manfaat bagi penggunanya dan juga dapat disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Sayangnya, pemerintah belum cukup serius dalam menangi kasus kejahatan yang terjadi di negara kita. Akibatnya, banyak kejahatan internet yang telah dilaporkan kepada pihak berwajib tidak dapat terselesaikan hingga saat ini. Pengawasan penggunaan internet di negara kita perlu diperketat lagi. Setiap kejahatan internet terbukti maka harus dihukum seberat-beratnya untuk memberi efek jera kepada pelaku kejahatan.


Internet memberi sejuta manfaat bagi penggunanya jika digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Sebaliknya, internet juga dapat membawa dampak yang buruk bagi para penggunanya jika disalahgunakan. Internet merupakan teknologi yang diciptakan sebagai media komunikasi. Banyak hal positif yang dapat kita lakukan dengan internet. Di antaranya e-commerce (bisnis online yang saat ini sedang ramai digunakan orang), e-learning (belajar tidak hanya di kelas, namun kapan pun dapat kita lakukan), e-banking (layanan online bank), dsb. Semuanya kembali pada penggunanya. Karena di tangan penggunanya, sebuah teknologi dapat membawa dampak positif juga dampak negatif. Be wisdom to use Internet!

Monday, December 6, 2010

Meng-Kambing Hitamkan Facebook




Kata "Facebook" tentunya tidak asing lagi di telinga kita saat ini. Facebook merupakan salah satu situs jejaring sosial yang sedang naik daun penggunaannya saat ini. Facebook telah digandrungi oleh jutaan orang di dunia saat ini, terutama dari kalangan kawula muda. Tanpa melihat usia, jenis kelamin, ras, agama, suku dan bangsa, facebook telah menghubungkan penggunanya satu sama lain. Di mana-mana orang sibuk membicarakan tentang facebook dan mengaksesnya sepanjang hari, seolah-olah jejaring sosial ini telah menghipnotis penggunanya dalam keasyikan menggunakan fitur-fitur dan aplikasi-aplikasi yang telah disediakan. Sampai-sampai si Igor Saykoji membuat sebuah lagu yang judulnya “Online” yang mana di dalam liriknya disebutkan “pagi-pagi buka Facebook padahal face masih ngantuk”. Ini menunjukkan betapa hebatnya pengaruh dari penggunaan facebook bagi penggunanya.

Facebook merupakan sebuah hasil karya teknologi informasi. Sebuah teknologi tentu saja dibuat untuk membantu manusia dalam beraktivitas. Namun, di tangan penggunanya sebuah teknologi dapat memberikan dampak positif juga negatif bagi penggunanya dan atau orang lain.

Pada tanggal 2 Desember 2010, saya menghadiri sebuah presentasi paper yang telah disajikan oleh teman saya dengan judul "Pengaruh Facebook Terhadap Gaya Hidup Masyarakat Indonesia Zaman Sekarang". Di dalam presentasinya, dia menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang menduduki peringkat ke-5 tertinggi dalam mengakses Facebook di dunia. Tidak hanya di waktu luang orang-orang mengaksesnya, bahkan saat bekerja (tidak heran ada karyawan yang dipecat saat ketahuan sedang mengakses Facebook saat jam kerja), belajar (sampai-sampai Guru menjelaskan tidak diperhatikan), begadang hingga tengah malam (besoknya badan jadi meriang semua) hanya untuk mengakses Facebook. Sehingga tidak heran jika Indonesia meraih peringkat ke-5 dalam hal penggunaan Facebook. Ibaratnya, Facebook seperti jamur di musim hujan.

Selain itu, dia juga menjelaskan sisi negatif dan positif dari penggunaan Facebook. Memang saat ini sedang maraknya pemberitaan tentang kasus-kasus kriminalitas, baik di media cetak maupun media elektronik. Semakin maraknya kasus kejahatan karena Facebook sampai-sampai merebak isu bahwa Majelis Ulama Indonesia akan mengeluarkan fatwa yang mengharamkan Facebook. Bukan hanya itu saja, sebagian besar orang tua menuduh Facebook sebagai biang kerok penyebab nakalnya anak mereka. Jika kita berpikir secara rasional, Facebook adalah sebuah teknologi. Seperti halnya senjata api dan pisau juga merupakan teknologi yang dibuat untuk membantu manusia. Penggunaan yang positif ataupun negatif, tergantung pada penggunanya, cara, habbit, serta tujuannya. Meng-kambing hitamkan Facebook, bukanlah sebuah tindakan rasional. Bagaimana mungkin alat (merupakan benda mati) yang disalahkan? Yang salah tentu saja penggunanya. Teknologi diciptakan bukan untuk suatu hal yang buruk, tapi untuk membantu manusia. Manusia lah yang mempunyai akal pikiran dalam menentukan hal yang baik dan buruk. Di tangan manusia, segala yang baik dapat terjadi juga yang hal yang buruk. Manusia adalah pelaku dan teknologi adalah sebuah alat. Daripada menyalahkan Facebook, lebih baik kita memanfaatkan Facebook untuk hal-hal positif seperti menambah teman dan jaringan (network), media belajar, media silaturahmi, perdagangan online, pertukaran informasi dan lain sebagainya. Sebenarnya masih lebih banyak lagi manfaat yang diberikan Facebook kepada penggunanya ketimbang hal-hal negatif dari penggunaannya. Semuanya kembali lagi pada diri kita masing-masing, apakah kita menggunakannya untuk hal yang baik dan bermanfaat, atau justru sebaliknya. Open your mind, don't blame anybody for what we do. Semoga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain.

Tuesday, November 30, 2010

Peranan IT Bagi Mahasiswa dalam Era Globalisasi Informasi dan Internet

Dewasa ini, teknologi mengalami perkembang pesat. Hampir di seluruh penjuru dunia saat ini telah tersentuh dengan teknologi. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi memegang peran strategis dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan serta sebagai cara baru dalam melakukan aktivitas manusia.
Salah satu teknologi yang berkembang dengan pesatnya saat ini adalah Teknologi Informasi dan Komunikasi. Perkembangan teknologi informasi merupakan salah satu faktor utama munculnya Globalisasi Informasi. Globalisasi informasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui informasi. Dengan adanya teknologi internet dan jaringan telekomunikasi nirkabel, manusia semakin mudah untuk berhubungan satu sama lain. Seperti tidak ada jarak yang memisahkan seorang di Eropa dengan seorang di Indonesia. Semua berkembang begitu cepat dan distribusi informasi seperti tidak terbatas. Salah satu ciri dari era globalisasi informasi adalah penyerbuan informasi dan komunikasi yang menembus batas-batas ruang dan waktu. Hal ini dapat diketahui dengan semakin cepat dan mudahnya seseorang untuk memperoleh informasi yang diinginkan.
Dunia pendidikan tidak lepas dari teknologi informasi dan komunikasi. Melalui pemanfaatan teknologi informasi, siapa saja dapat memperoleh layanan pendidikan dari institusi pendidikan mana saja, di mana saja, dan kapan saja dikehendaki. Secara khusus, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran dipercaya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, mengembangkan keterampilan teknologi informasi (IT skills) yang diperlukan oleh siswa ketika bekerja dan dalam kehidupannya nanti.
Salah satu ciri institusi pendidikan modern dewasa ini adalah dilibatkannya teknologi informasi dalam proses penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Telah banyak ditemukan di mana-mana lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi ini dalam rangka meningkatkan kinerja belajar mengajar yang dilakukan. Termasuk salah satunya adalah kampus tercintaku STIE Malangkuçeçwara Malang. Meskipun kampus saya berlatar belakang Ekonomi, tapi bukan berarti mahasiswanya tidak mempelajari IT. Bagi para dosen, khususnya kami sebagai mahasiswa, keterampilan IT sangat perlu dipelajari sebab akan menjadi bekal nantinya bagi wisudawan setelah lulus kuliah dan akan melanjutkan ke dunia kerja. Dunia kerja saat ini menuntut para pekerja untuk tidak hanya pandai di bidang akademik, tetapi juga memiliki keterampilan di bidang teknologi informasi. Dan alhamdulilah, sebagai seorang mahasiswa di STIE Malangkuçeçwara saya memperoleh ilmu Teknologi Informasi dalam ruang lingkup Ekonomi.Sebagai orang awam, mungkin akan terdengar ganjil jika kampus yang berlatar belakang ekonomi mempelajari teknologi informasi. Demikian juga yang saya alami ketika menyusun jadwal kuliah semester 5, karena salah satu dari 7 mata kuliah wajib adalah mata kuliah yang berkaitan dengan IT. Saya pun bertanya-tanya "untuk apa anak menajemen mempelajari IT? Saya kan bukan mahasiswa jurusan IT". Itulah hal yang terlintas pertama kali ketika akan mengambil mata kuliah tersebut. Tapi apa yang saya pikirkan ternyata adalah hal yang keliru. Sebab belajar IT bukan hanya untuk mahasiswa jurusan IT, tetapi untuk semua orang. Saya pun sadar bahwa setiap mahasiswa tidak dapat lepas dari teknologi informasi. Sebab dengan adanya teknologi informasi, mahasiswa dapat belajar secara mandiri dan efektif. Secara tidak langsung, tanpa kita sadari sebenarnya setiap pelajar/mahasiswa telah memanfaatkan teknologi informasi  dalam proses belajar tanpa mempelajari terlebih dahulu apa IT itu sendiri. Setidaknya sebagai seorang mahasiswa jangan sampai kita tidak tahu menahu tentang teknologi yang sedang berkembang saat ini (GAPTEK). Alasan inilah yang menyadarkan saya bahwa IT itu penting bagi setiap orang tanpa pandang bulu dan usia. Jika kita tidak dapat mengikuti perkembangan zaman, maka kita akan tersisihkan dari dunia ini.
Sebagai seorang mahasiswa, ada beberapa manfaat yang saya peroleh dengan adanya teknologi informasi adalah wawasan keilmuan saya menjadi bertambah. Jika dulunya buku adalah gudang ilmu, maka sekarang tidak lagi seperti itu. Kita tidak perlu membeli mengeluarkan uang untuk membeli buku yang nantinya akan rusak sendiri karena sekali pakai. Internet adalah solusi terbaik bagi setiap pelajar untuk memperoleh ilmu dengan cepat, mudah, dan murah. Internet adalah media pembelajaran terhandal untuk saat ini. Melalui internet, setiap orang dengan yang lainnya saling bertukar informasi, sehingga tidak heran jika kita dengan mudahnya memperoleh informasi lewat internet. Manfaat lain yang saya peroleh adalah saya menjadi semakin aktif dan kreatif dalam proses belajar dikelas. Jika dulunya dosen menggunakan metode ceramah dan contextual book, sekarang dengan hadirnya media komunikasi multimedia di kelas, saya dan teman-teman yang lain menjadi aktif dan lebih berperan dominan dalam kelas dibanding dengan dosennya.
Jika ingin diuraikan secara rinci, masih banyak lagi manfaat-manfaat lain dari pemanfaatan IT. Jadi tidaklah salah jika saya mengambil kesimpulan bahwa IT memegang peran strategis bagi mahasiswa dalam era globalisasi informasi dan internet.